Hukuman Fisik Untuk Seorang Siswa Sekolah, Apakah Mendidik ?

hendro, 04 Oct 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Malang-Berita menyedihkan kembali menimpa dunia pendidikan kita.Setelah beberapa kasus yang melibatkan seorang pendidik salah satunya kasus guru yang mencabuli muridnya di kota Malang, sekarang sedang viral tewasnya seorang siswa SMP karena dihukum lari oleh gurunya.Padahal siswa tersebut sudah mengeluh pusing dan sudah tidak kuat lagi lari, tetapi malah oleh sang guru diancam akan dikenakan hukuman tambahan berupa dijemur di panas matahari selama 15 menit.Entah apa yang terjadi di masyarakat kita dengan begitu banyak kasus yang sangat mencoreng di dunia pendidikan.Atau mungkin rekrutmen guru juga harus diperketat agar paham fungsi dan tugasnya sebagai guru dengan benar dan tidak asal melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak masuk di logika kita.Paling tidak guru bertindak juga harus dipikir secara akal perlukah suatu hukuman yang menyiksa secara fisik juga mental si murid.Hukuman mendidik secara mental sepertinya lebih tepat dan bukan hukuman fisik, apalagi siswa masih duduk di bangku SMP.

Bahkan rentetan kejadian tentang adanya siswa yang dibully sampai dipukuli dan disiksa teman-temannya di dalam kelas yang seharusnya jadi tempat belajar yang nyaman malah lepas dari pengawasan guru kelasnya.Sungguh kejadian yang aneh ruang kelas dalam keadaan tertutup dan tanpa guru, muridnya berbuat seperti itu tidak ada satupun guru yang tahu.Publik tahu justru dari video unggahan salah seorang siswa yang saat itu mengabadikan moment pembullyan tersebut.Kalau ruang kelas terlalu sering dibiarkan tanpa guru dalam waktu yang agak lama memang bisa menimbulkan kerawanan seperti diatas, sampai ada siswa yang berkelahi pun tidak ada satupun guru yang tahu padahal saat itu jam belajar.

Dalam hal kejadian tersebut pun biasanya guru juga tidak mau disalahkan karena beberapa alasan.Padahal seringkali guru melarang muridnya lapor ke orangtuanya kalau mengalami sesuatu di sekolah, karena kalau di sekolah semua masalah adalah tanggung jawab dan ranah sekolah serta jangan sampai keluar masalah tersebut dari sekolah.Hal tersebut menurut beberapa siswa di salah satu SD di kota Malang pernah disampaikan gurunya ke mereka.

"Akan tetapi apa kita sebagai orangtua harus menunggu anak kita mengalami kejadian fatal, entah itu kena bully temannya atau bisa jadi kena hukuman yang tidak wajar dari gurunya sampai terjadi hal dengan resiko berat apalagi sampai meninggal seperti di Manado,"kata Tatiek yang anaknya pernah mengalami kejadian dibully serta diancam temannya tetapi malah si anak yang jadi korban disalahkan sama gurunya.

Menyikapi kejadian yang sering terjadi di dunia pendidikan kita apalagi sampai kejadian terparah tewasnya siswa SMP di Manado Sulawesi Utara, beberapa pemerhati juga pendidik anak di kota Malang juga angkat bicara.Sebagian memang mengutuk keras sistem pola pendidikan yang mengutamakan kekerasan fisik ke murid apabila murid terkena hukuman.

"Begini, pertama guru jelas tidak peduli di lingkungan kelas, padahal ada tata tertib yang harus dipatuhi guru dan siswa.Kedua tidak ada nilai-nilai karakter yang diajarkan oleh guru, ketiga murid mencari jati diri yang ada di rumah, padahal rumah belum tentu menghadirkan nilai-nilai religius yang benar.Seharusnya kita sudah diajarkan dan selalu di kawal oleh guru,"papar Eni yang pernah berdinas di dinas pendidikan kota Batu dan kini lebih aktif mengajar ekstrakurikuler kesenian tradisional di salah satu sekolah di kota Malang.

Seorang pensiunan guru SMUN 3 kota Malang, Bagoes Brahmananto juga berpendapat "Menurut saya bahwa anak tersebut meninggal dunia dan itu memang sudah takdirnya, kebetulan bertepatan saat meninggalnya kok pas menerima punishment dari pelanggaran peraturan sekolahnya, dan saat mejalani hukuman, sungguh sangat disayangkan," ujar Bagoes.

"Yang lebih disayangkan adalah guru yang menangani pelanggaran anak  terlambat datang di sekolah tersebut,  tidak atau kurang tanggap terhadap kondisi fisik siswa tersebut dan juga alasan yang tersampaikan sehingga berakibat seperti di atas," sambung pria yang sampai kini masih sering dimintai pendapat dan disambangi oleh mantan murid-muridnya walau telah pensiun beberapa tahun silam.

Seorang orangtua murid bernama Dean juga pernah mengatakan kepada indonesiasatu.co.id bahwa anaknya yang masih duduk di bangku SD  diintimidasi oleh gurunya agar jangan bercerita ke orangtuanya kalau ada kejadian yang menimpa si anak di sekolah, mungkin seperti dibully temannya atau dihukum gurunya karena suatu hal.

"Sama saja seorang guru mengajari anak saya sendiri untuk terbiasa tidak jujur dan malah diajari berbohong kepada orangtuanya sendiri mas,"cerita Dean (30) kepada indonesiasatu.co.id.

Beruntung setelah jalan mediasi akhirnya semua persoalan di sekolah yang menyangkut sang anak selesai dengan baik.

Salah satu orangtua murid di salah satu SDN di kota Malang mengungkapkan dia bahkan tanpa sengaja melihat seorang siswa ditempeleng gurunya di halaman sekolah hanya karena membuat kotor halaman sekolah.Orangtua murid tersebut kebetulan saat itu berada di luar pagar sekolah dan berniat melihat ke dalam halaman sekolah.

"Saya kaget dan guru itu juga kaget karena saya memergoki si guru hanya karena muridnya membuat kotor halaman sekolah langsung ditempeleng dengan keras, padahal itu anak kecil masih SD dan kalau dimarahi pun pasti sudah takut,"paparnya.

"Coba si guru tempeleng si anak di depan orangtua si anak, berani tidak.Orangtuanya sendiri saja belum tentu pernah main tangan ke anaknya sendiri, lha ini guru yang notabene orang lain malah seenaknya"sambungnya.

Menurutnya setelah kepergok salah satu orangtua murid tidak pernah terdengar lagi ada guru yang menempeleng muridnya di sekolah tersebut.Bisa karena takut dilaporkan atau mungkin juga muridnya diintimidasi gurunya agar tidak lapor ke orangtuanya tentang kejadian apapun di sekolah.Karena kejadian seperti ini menurut beberapa orangtua murid pernah juga terjadi di sekolah lain.

Dari rentetan kisah-kisah pilu yang terjadi di dunia pendidikan semestinya pemerintah melalui Mendikbud harus lebih selektif dalam perekrutan seorang pendidik dan selain kecakapan dalam mendidik juga harus ada test detil tentang kejiwaan emosional seorang pendidik.Karena seorang pendidik yang tidak pernah ditest kejiwaannya pasti tidak akan pernah diketahui seberapa tingkat emosional yang bersangkutan.Dan itu berbahaya apabila bersentuhan tiap hari dengan murid-muridnya.Karena sekolah yang seharusnya menjadi tempat nyaman seorang anak dalam menimba ilmu, jangan sampai menjadi tempat yang menakutkan bagi anak didik karena cap guru killer dan menakutkan bagi seorang anak bisa membuat mereka jadi malas ke sekolah.

Senakal apapun seorang anak memang jadi tugas orangtua dirumah dan juga guru di sekolahnya untuk mendidik.Berbeda dengan masa lampau, kejadian sekecil apapun di jaman medsos ini memang mudah sekali terekspose.

"Bahkan seorang pelatih beladiri profesional pun tidak sembarangan memberikan latihan fisik kepada murid-muridnya secara sembarangan," jelas Nono salah satu pelatih beladiri yang juga melatih di sekolah-sekolah.

Semua dipertimbangkan dan diperhatikan secara teliti oleh sang pelatih.Apalagi seorang guru biasa apabila sembarangan menghukum seorang anak tanpa tahu efeknya kepada masing-masing anak bisa membahayakan fisiknya seperti cacat permanent seumur hidup sampai kondisi mental traumatik bahkan sampai merenggut jiwa seperti kejadian di Manado.( Hendro B.L)

Ilustrasi gambar : Hendro B.L ( HBL ).

 

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu